Dalih di Balik Penamaan Tol Japek Layang Jadi Sheikh Mohamed Bin Zayed

hazonyeshaya.org > Data > Dalih di Balik Penamaan Tol Japek Layang Jadi Sheikh Mohamed Bin Zayed
alasan-di-balik-penamaan-tol-japek-layang-jadi-sheikh-mohamed-bin-zayed-1

Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

Jakarta

Anak Mahkota Uni Emirat Arab (UEA) Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan (MBZ), namanya diabadikan pada Pekerjaan Tol Layang Jakarta-Cikampek. Gajah Sekretaris Negara Pratikno menjelaskan latar belakangnya.

Menurut Pratikno latar pungkur penamaan Sheikh Mohamed menjelma Jalan Tol Japek Mengambang adalah untuk menghargai hubungan baik yang terjalin jarang Indonesia dengan UEA.

Terlebih lagi, tempat mengatakan nama Presiden Joko Widodo sebelumnya juga telah diabadikan menjadi salah mulia nama jalan di was-was ibu kota Abu Dhabi. Penamaan MBZ pada berkepanjangan tol layang ini dinilai sebagai penghormatan untuk UEA.

“Sebelumnya, nama jalan Presiden Joko Widodo dicanangkan di Duli Dhabi pada sebuah ulama utama yang strategis jarang Abu Dhabi National Exhibition Center menuju ke pedoman kompleks kedutaan, ” menguraikan Pratikno dalam acara peresmian yang disiarkan di YouTube, Senin (12/4/2021).

“Ini penghormatan bangsa Nusantara yang diberikan kepada pemerintah UEA, khususnya untuk Sheikh Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Jadi itu lah latar belakang perubahan tanda ini, ” lanjutnya.

Pratikno juga menjelaskan hubungan diplomatik antara Indonesia dan UEA sudah berlangsung lebih dari 45 tahun sejak tahun 1976. Pratikno juga mengatakan hubungan dengan UEA makin mesra, tiba dari bidang sosial serta kebudayaan maupun bidang ekonomi.

Khusus pada sektor perekonomian, menurutnya pemerintah UEA sudah menyuntikkan penuh investasi, bahkan disebut mempunyai jumlah yang terbesar.

Investasi diberikan di pembangunan infrastruktur, dan yang paling baru adalah suntikan dana untuk Indonesia Investment Authority (INA) yang adalah lembaga pengelola dana sovereign wealth fund di Nusantara.

“Di tempat ekonomi, investasi UEA merupakan investasi yang terbesar di Indonesia. Baik untuk pembangunan infrastruktur dan dukungan di volume besar ke INA yang menjadi lembaga SWF Indonesia, ” ujar Pratikno.

(hal/zlf)