Miliuner Ini Terus Sedekah maka Ajal Menjemput, Alasannya Membuat Kagum

hazonyeshaya.org > Data > Miliuner Ini Terus Sedekah maka Ajal Menjemput, Alasannya Membuat Kagum
miliuner-ini-terus-sedekah-hingga-ajal-menjemput-alasannya-bikin-kagum-1

Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

Jakarta

Kisah pengusaha lulus asal Sydney, Australia, Ali Banat mengajarkan kita untuk tidak takut miskin karena sedekah. Pasalnya, sampai akhir hayat pun dirinya yang masyhur sebagai miliuner tetap berbagi.

Ali Memukul pernah menyumbangkan seluruh harta yang dimiliki untuk ahli miskin di Afrika. Langkah itu dilakukannya sebelum meninggal dunia pada 29 Mei 2018, tiga tahun setelah didiagnosis mengidap kanker periode empat.

Sezaman hidupnya, sebelum menggeluti kegiatan sosial, Ali Banat lumrah sebagai pebisnis sukses secara gaya hidup yang mewah. Dia adalah kolektor mobil, jam tangan, sepatu, topi, dan kacamata mahal. Tidak lupa punya mobil sport seharga US$ 600. 000 atau sekitar Rp 8, 7 miliar dan cemerlang US$ 60. 000 atau sekitar Rp 870 juta.

Keputusan tajam untuk menyerahkan kekayaan kepada kaum dhuafa diambil setelah dokter menyatakan ia terkena kanker dan hanya punya waktu tujuh bulan untuk bertahan hidup. Ali Menyapu menyebut kanker yang mengambil seluruh badannya sebagai imbalan dari Allah.

“Ini hadiah karena Allah memberi kesempatan bagi saya untuk berubah…, ” ia tak kuasa menahan air mata saat menyampaikan sahutan ini melalui video dengan diunggah ke YouTube, laksana ditulis dari BBC, Minggu (25/4/2021).

Ali Banat menambahkan bahwa kanker yang diderita membukakan matanya atas banyak hal pada dunia ini. Ia menyadari besarnya karunia yang semasa ini diterima, seperti menghirup udara secara gratis.

“Begitu tahu saya terkena kanker, saya membiarkan koleksi mobil, jam lengah, bahkan pakaian. Saya bawa semua pakaian saya dan saya serahkan ke orang-orang yang memerlukan ketika aku bepergian ke luar negeri, ” kata Ali Banat.

“Saya mau meninggalkan dunia tanpa utama pun harta benda, ” katanya.

Ia mengatakan tak lagi punya keinginan untuk mengejar kenikmatan dunia.

“Ketika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa Anda sakit serta hanya punya waktu kurang bulan untuk bertahan, melacak kesenangan dunia akan menjelma prioritas yang paling akhir, ” jelasnya.

Ali Banat mengatakan harta dunia tak akan berguna secara pribadi bagi seseorang yang divonis mati pada beberapa bulan. “Bagi saya lebih utama membuat seorang anak di Afrika tersenyum bahagia daripada memiliki mobil mewah seharga miliaran, ” katanya.

Sesudah mengadakan perjalanan ke Afrika, Ali Banat mendirikan yayasan sosial dengan tujuan membangun masjid, madrasah dan membangun para janda di tempat tersebut. Keputusan mendirikan yayasan juga dipicu ketika dia mengantarkan kawan yang wafat dunia karena kanker.

Saat di pemakaman dirinya sadar bahwa sesudah seseorang meninggal dunia, tidak ada yang mendampingi dalam alam kubur.

“Bahkan uang yang Anda punya, itu tidak hendak Anda bawa, ” tuturnya.

Ali Menyapu mengatakan satu-satunya yang bakal dibawa adalah amal kebaikan selama di dunia. Pada sebuah wawancara ia mengutarakan sudah ingin bertemu secara Allah. Pengalaman spiritual itu berawal ketika dirinya meminum obat untuk meringankan rendah dan ternyata sedikit melebihi dosis, di situ diakui berada di alam lain dan melihat pemandangan yang sangat indah.

(aid/zlf)