Prancis Minta Negara Arab Setop Boikot Produknya, Macron Banjir Kecaman

hazonyeshaya.org > Data > Prancis Minta Negara Arab Setop Boikot Produknya, Macron Banjir Kecaman
Prancis Minta Negara Arab Setop Boikot Produknya, Macron Banjir Kecaman

Jakarta

Prancis mendesak negara-negara Arab untuk menghentikan seruan boikot produknya. Boikot itu muncul usai pemberitahuan kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dilansir AFP, Senin (26/10/2020) Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat, bahwa dalam kira-kira hari terakhir telah ada pekik untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negeri Timur Tengah serta seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satire Nabi Muhammad dibanding Prancis.

“Seruan boikot ini tidak berdasar dan kudu segera dihentikan, serta semua serbuan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal, ” sirih pernyataan itu.

Selain berita tersebut, berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom , hari ini, Senin (26/10/2020):

– Pangeran Arab Saudi Terbujur Koma 15 Tahun, Apa Penyebabnya?

Kabar seorang pangeran Arab Saudi yang bisa menggerakkan tangannya usai koma semasa sekitar 15 tahun ramai siap perbincangan di media sosial. Dia mengalami koma usai mengalami kesialan.

Dilansir The New Arab, Jumat (23/10/2020), Pangeran Al-Waleed bin Khalid Al-Saud sudah dirawat dan menggunakan ventilator sejak 2005. Dia menderita pendarahan otak pada kecelakaan mobil saat menempuh belajar di sebuah perguruan tinggi tentara. Akibat insiden itu, Pangeran Al-Waleed koma selama sekitar 15 tahun.

Pada tahun 2015, dokter yang merawatnya memutuskan untuk mencabut perangkat mesin pendukung hidupnya. Namun, ayahnya, Pangeran Khalid bin Talal Al Saud dan ibunya, Putri Mona Riad El Solh — yang merupakan putri pemimpin Lebanon — menolak hal itu.

– Indra Malaysia Tolak Tetapkan Keadaan Darurat, PM Muhyiddin Didesak Mundur

Perdana Menteri (PM) Malaysia, Muhyiddin Yassin, menghadapi seruan mundur setelah Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong, Al-Sultan Abdullah, menolak permintaannya untuk menetapkan peristiwa darurat demi memerangi pandemi virus Corona (COVID-19).

Semacam dilansir Reuters, Senin (26/10/2020), pekik mundur itu berasal dari partai politik anggota koalisi pemerintahannya sendiri. Penolakan Sultan Abdullah terhadap seruan PM Muhyiddin memicu keraguan soal kepemimpinannya atas Malaysia.